Senin, 28 Oktober 2013
Hati-hati Mengatakan Kata ini pada Konsumen Anda
Anda perlu berhati-hati agar kata-kata yang anda ucapkan tidak menyinggung atau bahkan melukai hati konsumen. Di bawah ini adalah daftar kata-kata yang sebaiknya tidak anda katakan pada konsumen anda.
Apa sajakah itu? Berikut ini kata-kata yang sebaiknya anda hindari pada konsumen.
“Apa masalah anda?”
Kata-kata seperti ini mungkin lazim anda dengar ketika hendak komplain suatu hal. Padahal kalimat tersebut terkesan kurang sopan.
Kalimat yang lebih tepat dipakai adalah “Ada yang bisa saya bantu?”. Dan biarkan konsumen menjelaskan persoalan yang sedang dihadapinya.
“Saya tidak tahu”
Kata “saya/kami tidak tahu” mengesankan ketidakpedulian anda dalam melayani konsumen. Jika anda memang tidak memahami persoalan konsumen, sebaiknya anda ganti jawaban tersebut misalnya dengan “saya coba tanyakan dulu pada atasan saya”.
“Saya tidak bisa melakukan hal itu”
Misalkan ada konsumen anda yang meminta anda melakukan sesuatu yang melampaui kewenangan anda, anda sebaiknya tidak mengatakan “saya tidak bisa melakukan itu” Sebab kalimat tersebut bernada negatif.
Jawaban yang lebih tepat bisa diganti misalnya dengan “Apa yang bisa saya lakukan adalah…”.
“Itu bukan tugas saya”
Hal ini mungkin salah satu kalimat yang paling sering anda dengar. Ketika anda komplain pada orang yang bukan menangani kasus yang anda hadapi, anda akan mendapati jawaban tersebut.
Kalimat yang lebih baik untuk dilontarkan jika mendapati situasi tersebut misalnya “Saya sangat senang untuk mengantar anda menemui orang di bagian yang menangani permasalahan ini.”
Menyebutkan Harga yang tidak pas
Misal anda ditanya seorang customer, dan ditanya berapa biayanya, lalu anda menjawab misal antara Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta. Ini merupakan jawaban yang tidak tepat. Selain karena adanya faktor ketidakjelasan, meski anda sebutkan range harga, tapi yang konsumen akan ingat adalah harga yang lebih rendah. Jadi jika nantinya misalnya biaya yang dikenakan konsumen adalah harga yang tertinggi, konsumen bisa mengungkit-ungkitnya dan mungkin saja kecewa.
Bagaimana sebaiknya? Sebaiknya sebutkan harga yang tepat. Tidak menggunakan kisaran. Misal biayanya Rp 700ribu, sebutkan 700 ribu, Jangan sebutkan kisaran harga antara Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu.
Kata “Kami minta maaf, tapi…”
Saat anda meminta maaf karena konsumen komplain dengan pelayanan anda, jangan pernah ikuti dengan kata “tapi”. Sebab kata “tapi” menandakan bahwa anda tak tulus untuk meminta maaf. Ada alasan yang masih anda berikan untuk membela diri. Sebaiknya bagaimana?
Ganti kata “tapi” tersebut dengan kata “dan”. Kata “dan” lebih bersifat netral daripada kata “tapi” yang mengandung pertentangan. Katakan “Kami minta maaf dan ini solusi yang kami tawarkan”. Kalimat tadi lebih baik daripada “Kami minta maaf, tapi kami punya solusinya.”
Kata “Anda harus…”
Misalnya muncul ucapan “Anda harus datang ke bagian X untuk menyelesaikan persoalan tersebut.” Kata “harus” berkesan memaksa. Sebab itu sebaiknya anda hindari ketika berhubungan dengan konsumen.
Sebaiknya, anda ganti dengan bentuk kalimat penawaran. Misal, “Maukah anda ke bagian X yang menangani persoalan tersebut?” atau “Saya akan antar anda ke bagian X untuk membantu anda.”
Menggunakan kata-kata yang tepat sangat penting untuk menjaga kepuasan konsumen. Menggunakan kata-kata seperti di atas juga bukan hanya dibutuhkan oleh bagian customer service, namun sebaiknya dipelajari oleh seluruh anggota suatu perusahaan. Sebab hakikatnya persoalan menangani konsumen dengan baik adalah tugas bersama seluruh komponen dalam suatu usaha.
Ada komentar atau kata-kata lain yang ingin anda sampaikan?
Mari sharing-kan lewat kotak komentar.
sumber : joko susilo.com
Bagaimana Cara Menjadi Penulis Novel?
Apakah Anda ingin tahu tentang Bagaimana Cara Menjadi Penulis Novel?
Ya, keingintahuan Anda itu juga sama dengan banyak orang yang menanyakan di milis-milis penulisan di internet. Mereka bertanya, “Bagaimana sih cara menjadi penulis novel?” Ada pula yang meminta tips atau panduannya kepada saya.
Karena banyaknya pertanyaan itu, saya menulis postingan ini untuk membantu Anda mengetahui bagaimana cara menjadi penulis novel.
Saya katakan pada Anda bahwa untuk menjadi seorang penulis novel, “Anda harus memulai dari apa yang Anda suka.”.
Berikut ini adalah dua tahap memulai menjadi penulis novel yang berawal dari sebuah kesukaan:
SATU
Menulis dengan topik yang paling Anda sukai. Tulislah hal-hal yang paling dekat dengan diri Anda. Ini akan membuat Anda lebih lancar dan cepat menulis novel, sebab Anda SANGAT menguasai hal-hal yang sedang Anda bahas.
“Bagaimana caranya?”
Mulailah menulis secara spontan. Secara bebas. Lupakan semua teori. Lupakan semua aturan bahasa. Lupakan semua titik koma. Yang penting, mulailah menulis secara spontan, secara bebas.
“Lho, kok sembarangan sekali. Bukankan untuk menulis itu ada teorinya? Ada panduannya? Ada pedomannya? Ada rumusnya?”
Ya, tentu saja. Karena itu, lanjutkan pada cara membuat novel berikut ini.
DUA
Menulis ulang karya novel yang Anda sukai. Ya, dengan menulis ulang novel yang Anda suka akan mempercepat proses pembelajaran Anda. Dari pada banyak tanya sana-sini, maka lebih efektif jika Anda belajar sendiri langsung pada gurunya. Ya, belajarlah cara menulis novel dari novel itu sendiri. Tulis ulang novel yang Anda suka. Misalnya Anda suka membaca novel “Laskar Pelangi” dan Anda tertarik untuk bisa menulis novel best seller seperti itu. Maka tulis ulang novel itu. Tidak harus semua bagian, cukup pada bab atau paragraf yang Anda suka saja.
Menulis ulang novel karya orang lain itu seperti kita membongkar pasang sesuatu, membongkar baju dan menjahitnya kembali misalnya. Dengan membongkar pasang baju, orang akan cepat belajar bagaimana cara menggunting pola baju, orang akan tahu bagaimana cara menjahit yang bagus, dan lain-lain.
Apakah Anda sepakat dengan ini?
Yups, begitu juga dengan menulis ulang karya orang lain, Anda akan dibawa menyerap lebih banyak ilmu dan panduan menulis novel yang menakjubkan. Anda akan tiba-tiba tahu bagaimana cara memulai menulis pembukaan novel atau kalimat pembuka. Anda akan tahu bagaimana cara menulis alur novel. Anda akan tahu cara membuat plot yang menarik. Anda akan digiring untuk menguraikan kata-kata dengan deskripsi yang indah.
Bahkan Anda juga akan belajar bagaimana cara meletakkan titik-koma, tanda seru dan tanda tanya, tanda kutip dan tanda lainnya. Anda juga akan belajar bagaimana membuat kalimat dan paragraf, menyambung paragraf satu ke yang berikutnya, membuat paragraf menjadi bab dan seterusnya.
Ya, Anda akan langsung belajar bagaimana cara mudah menulis sebuah novel. Anda akan merasakan “darah menulis” mengalir dalam jiwa Anda. Lambat tapi pasti…
Namun untuk menjadi seorang penulis novel profesional, dua tahap diatas tentu belumlah memadai. Anda harus lebih banyak berlatih cara menulis novel yang baik dan benar. Anda juga harus “berguru” kepada orang dan bacaan. Dan Anda harus melakukannya terus-menerus tanpa henti sampai novel Anda terbit dan dinikmati pembaca.
Yups, demikian dua langkah Menjadi Seorang Penulis Novel saya tulis. Saya doakan siapa saja yang membaca tulisan ini benar-benar menjadi penulis novel profesional. Amin
NB: Menulis ulang novel orang lain bukan berarti Anda menjiplak karya orang lain. Karya itu tetaplah menjadi karya penulis. Anda hanya belajar mengetahui seluk beluk cara menulis novel saja.
Oleh : Agusmita Ahmad
Ya, keingintahuan Anda itu juga sama dengan banyak orang yang menanyakan di milis-milis penulisan di internet. Mereka bertanya, “Bagaimana sih cara menjadi penulis novel?” Ada pula yang meminta tips atau panduannya kepada saya.
Karena banyaknya pertanyaan itu, saya menulis postingan ini untuk membantu Anda mengetahui bagaimana cara menjadi penulis novel.
Saya katakan pada Anda bahwa untuk menjadi seorang penulis novel, “Anda harus memulai dari apa yang Anda suka.”.
Berikut ini adalah dua tahap memulai menjadi penulis novel yang berawal dari sebuah kesukaan:
SATU
Menulis dengan topik yang paling Anda sukai. Tulislah hal-hal yang paling dekat dengan diri Anda. Ini akan membuat Anda lebih lancar dan cepat menulis novel, sebab Anda SANGAT menguasai hal-hal yang sedang Anda bahas.
“Bagaimana caranya?”
Mulailah menulis secara spontan. Secara bebas. Lupakan semua teori. Lupakan semua aturan bahasa. Lupakan semua titik koma. Yang penting, mulailah menulis secara spontan, secara bebas.
“Lho, kok sembarangan sekali. Bukankan untuk menulis itu ada teorinya? Ada panduannya? Ada pedomannya? Ada rumusnya?”
Ya, tentu saja. Karena itu, lanjutkan pada cara membuat novel berikut ini.
DUA
Menulis ulang karya novel yang Anda sukai. Ya, dengan menulis ulang novel yang Anda suka akan mempercepat proses pembelajaran Anda. Dari pada banyak tanya sana-sini, maka lebih efektif jika Anda belajar sendiri langsung pada gurunya. Ya, belajarlah cara menulis novel dari novel itu sendiri. Tulis ulang novel yang Anda suka. Misalnya Anda suka membaca novel “Laskar Pelangi” dan Anda tertarik untuk bisa menulis novel best seller seperti itu. Maka tulis ulang novel itu. Tidak harus semua bagian, cukup pada bab atau paragraf yang Anda suka saja.
Menulis ulang novel karya orang lain itu seperti kita membongkar pasang sesuatu, membongkar baju dan menjahitnya kembali misalnya. Dengan membongkar pasang baju, orang akan cepat belajar bagaimana cara menggunting pola baju, orang akan tahu bagaimana cara menjahit yang bagus, dan lain-lain.
Apakah Anda sepakat dengan ini?
Yups, begitu juga dengan menulis ulang karya orang lain, Anda akan dibawa menyerap lebih banyak ilmu dan panduan menulis novel yang menakjubkan. Anda akan tiba-tiba tahu bagaimana cara memulai menulis pembukaan novel atau kalimat pembuka. Anda akan tahu bagaimana cara menulis alur novel. Anda akan tahu cara membuat plot yang menarik. Anda akan digiring untuk menguraikan kata-kata dengan deskripsi yang indah.
Bahkan Anda juga akan belajar bagaimana cara meletakkan titik-koma, tanda seru dan tanda tanya, tanda kutip dan tanda lainnya. Anda juga akan belajar bagaimana membuat kalimat dan paragraf, menyambung paragraf satu ke yang berikutnya, membuat paragraf menjadi bab dan seterusnya.
Ya, Anda akan langsung belajar bagaimana cara mudah menulis sebuah novel. Anda akan merasakan “darah menulis” mengalir dalam jiwa Anda. Lambat tapi pasti…
Namun untuk menjadi seorang penulis novel profesional, dua tahap diatas tentu belumlah memadai. Anda harus lebih banyak berlatih cara menulis novel yang baik dan benar. Anda juga harus “berguru” kepada orang dan bacaan. Dan Anda harus melakukannya terus-menerus tanpa henti sampai novel Anda terbit dan dinikmati pembaca.
Yups, demikian dua langkah Menjadi Seorang Penulis Novel saya tulis. Saya doakan siapa saja yang membaca tulisan ini benar-benar menjadi penulis novel profesional. Amin
NB: Menulis ulang novel orang lain bukan berarti Anda menjiplak karya orang lain. Karya itu tetaplah menjadi karya penulis. Anda hanya belajar mengetahui seluk beluk cara menulis novel saja.
Oleh : Agusmita Ahmad
Bagaimana Cara Menulis Yang Baik
Pertanyaan “bagaimana cara menulis” adalah pertanyaan yang umum, karenanya jawaban saya di posting sebelumnya pun tergolong umum, dan mungkin belum menyentuh harapan dari si penanya. Nah, pertanyaan kali ini lebih spesifik, yakni “bagaimana cara menulis yang baik”. Karena pertanyaannya lebih spesifik, maka jawaban berikut ini pun akan lebih spesifik.
Di post sebelumnya, saya sudah menyatakan bahwa menulis itu tak jauh beda dengan memasak—begitu pula proses dan prakteknya. Tidak jauh beda pula dengan memasak, menulis juga memiliki bagian-bagian atau tahapan-tahapan tersendiri.
Ketika mulai memasak pertama kalinya, mungkin masakan yang mampu kita buat hanyalah merebus mi instan atau memasak telur mata sapi. Tetapi, jika kita menginginkan masakan yang lebih rumit atau lebih lezat, kita pun perlu membaca buku resep masakan tertentu agar tidak salah dalam mengumpulkan bahan-bahannya, juga agar tidak keliru dalam menakar bumbunya. Dan…begitu pula halnya dengan menulis.
Pada awal-awal belajar menulis, tulisan kita mungkin masih terbatas—baik dalam cara penyampaiannya, ataupun dalam kemampuan kita sendiri dalam menulis. Karenanya, untuk dapat menambah kemampuan dan lebih kaya dalam cara penyampaian, kita perlu mempelajari teori tentang menulis. Di sinilah sesungguhnya fungsi dari buku-buku teori menulis itu. Dengan mempelajari buku-buku teori kepenulisan, kita akan dapat menambah pengetahuan tentang cara menulis, sehingga tulisan kita pun akan lebih baik dan terus lebih baik lagi.
Pengetahuan agar bisa menulis secara baik juga dapat diperoleh dengan banyak membaca buku atau tulisan-tulisan orang lain. Kalau boleh jujur, saya sendiri lebih banyak mendapatkan pengetahuan menyangkut hal ini dari buku-buku yang saya baca—dan bukannya dari buku-buku teori menulis yang saya pelajari. Ketika membaca banyak buku dari berbagai penulis, kita akan langsung dihadapkan pada cara dan gaya menulisnya. Dalam proses itu, secara tidak langsung sesungguhnya kita tengah belajar tentang cara menulis yang baik.
Kembali pada analogi memasak. Setiap orang bisa merebus mi instan—karena kita tinggal memanaskan air di atas kompor, kemudian memasukkan mi dan bumbu-bumbunya ke dalam panci. Tunggu sebentar, dan mi instan pun sudah siap dihidangkan. Tetapi, mi instan ‘standar’ semacam itu tidak istimewa—karena setiap orang bisa melakukannya, setiap orang bisa memasaknya.
Di warung pinggir jalan, ada kalanya orang juga menjual mi rebus yang dibuat dari mi instan. Dan ada cukup banyak warung mi semacam itu yang laris dan didatangi banyak orang. Mengapa? Karena penjual mi di warung itu mampu menyuguhkan masakan mi rebus yang lebih enak dan lebih lezat, meski menggunakan bahan utama mi instan yang sama. Penjual warung itu tahu bagaimana menambahkan bumbu yang tepat, sayur yang tepat dan sekaligus cara penyajian yang tepat, sehingga orang-orang pun mau membayar lebih mahal karena rasa mi instan itu lebih istimewa dibanding mi instan yang biasa dimasaknya sendiri.
Begitu pula halnya dengan menulis. Meskipun sama-sama menggunakan bahan baku utama berupa kata-kata, tetapi tingkat kemampuan orang dalam mengolah dan merangkai kata-kata itu bisa berbeda, dan begitu pula dengan hasilnya. Karenanya, untuk dapat menulis dengan (lebih) baik, kita pun harus belajar—banyak belajar—bisa melalui buku-buku teori kepenulisan, menghadiri acara-acara jurnalistik, ataupun dengan banyak membaca buku karya para penulis yang lain.
Jadi, kunci pertama untuk bisa menulis dengan baik adalah belajar—dan terus belajar. Kemudian, kunci kedua untuk bisa menulis dengan baik adalah membaca—dan terus banyak membaca. Kunci ketiga untuk bisa menulis dengan baik adalah sering menulis—dan terus menulis dan menulis lagi.
Menulis adalah proses kreatif. Ia tidak bisa berhenti di satu titik dan kemudian dianggap selesai. Setiap orang yang ingin menulis dengan baik harus terus belajar, harus terus membaca, harus terus mengembangkan kemampuan, harus terus mengasah kreativitas, harus terus mempertajam kepekaan—bersamaan dengan proses menulisnya.
Sekali lagi, menulis adalah proses kreatif—dan ini adalah proses yang tak pernah selesai. Artinya, siapa saja yang ingin dapat menulis dengan baik haruslah terus berproses. Setiap kali kau merasa tulisanmu sudah baik, yakinilah bahwa itu bukan titik final—karena selalu ada cara baru untuk terus memperbaiki tulisan itu—yakni dengan proses belajar tanpa henti.
Jadi, bagaimana cara menulis yang baik? Sekarang mari kita simpulkan. Cara menulis yang baik adalah dengan banyak belajar, banyak membaca, banyak menulis, banyak belajar lagi, banyak membaca lagi, banyak menulis lagi…dan begitu seterusnya. Cukup mudah, kan…?
Oleh : Hoeda Manis
Di post sebelumnya, saya sudah menyatakan bahwa menulis itu tak jauh beda dengan memasak—begitu pula proses dan prakteknya. Tidak jauh beda pula dengan memasak, menulis juga memiliki bagian-bagian atau tahapan-tahapan tersendiri.
Ketika mulai memasak pertama kalinya, mungkin masakan yang mampu kita buat hanyalah merebus mi instan atau memasak telur mata sapi. Tetapi, jika kita menginginkan masakan yang lebih rumit atau lebih lezat, kita pun perlu membaca buku resep masakan tertentu agar tidak salah dalam mengumpulkan bahan-bahannya, juga agar tidak keliru dalam menakar bumbunya. Dan…begitu pula halnya dengan menulis.
Pada awal-awal belajar menulis, tulisan kita mungkin masih terbatas—baik dalam cara penyampaiannya, ataupun dalam kemampuan kita sendiri dalam menulis. Karenanya, untuk dapat menambah kemampuan dan lebih kaya dalam cara penyampaian, kita perlu mempelajari teori tentang menulis. Di sinilah sesungguhnya fungsi dari buku-buku teori menulis itu. Dengan mempelajari buku-buku teori kepenulisan, kita akan dapat menambah pengetahuan tentang cara menulis, sehingga tulisan kita pun akan lebih baik dan terus lebih baik lagi.
Pengetahuan agar bisa menulis secara baik juga dapat diperoleh dengan banyak membaca buku atau tulisan-tulisan orang lain. Kalau boleh jujur, saya sendiri lebih banyak mendapatkan pengetahuan menyangkut hal ini dari buku-buku yang saya baca—dan bukannya dari buku-buku teori menulis yang saya pelajari. Ketika membaca banyak buku dari berbagai penulis, kita akan langsung dihadapkan pada cara dan gaya menulisnya. Dalam proses itu, secara tidak langsung sesungguhnya kita tengah belajar tentang cara menulis yang baik.
Kembali pada analogi memasak. Setiap orang bisa merebus mi instan—karena kita tinggal memanaskan air di atas kompor, kemudian memasukkan mi dan bumbu-bumbunya ke dalam panci. Tunggu sebentar, dan mi instan pun sudah siap dihidangkan. Tetapi, mi instan ‘standar’ semacam itu tidak istimewa—karena setiap orang bisa melakukannya, setiap orang bisa memasaknya.
Di warung pinggir jalan, ada kalanya orang juga menjual mi rebus yang dibuat dari mi instan. Dan ada cukup banyak warung mi semacam itu yang laris dan didatangi banyak orang. Mengapa? Karena penjual mi di warung itu mampu menyuguhkan masakan mi rebus yang lebih enak dan lebih lezat, meski menggunakan bahan utama mi instan yang sama. Penjual warung itu tahu bagaimana menambahkan bumbu yang tepat, sayur yang tepat dan sekaligus cara penyajian yang tepat, sehingga orang-orang pun mau membayar lebih mahal karena rasa mi instan itu lebih istimewa dibanding mi instan yang biasa dimasaknya sendiri.
Begitu pula halnya dengan menulis. Meskipun sama-sama menggunakan bahan baku utama berupa kata-kata, tetapi tingkat kemampuan orang dalam mengolah dan merangkai kata-kata itu bisa berbeda, dan begitu pula dengan hasilnya. Karenanya, untuk dapat menulis dengan (lebih) baik, kita pun harus belajar—banyak belajar—bisa melalui buku-buku teori kepenulisan, menghadiri acara-acara jurnalistik, ataupun dengan banyak membaca buku karya para penulis yang lain.
Jadi, kunci pertama untuk bisa menulis dengan baik adalah belajar—dan terus belajar. Kemudian, kunci kedua untuk bisa menulis dengan baik adalah membaca—dan terus banyak membaca. Kunci ketiga untuk bisa menulis dengan baik adalah sering menulis—dan terus menulis dan menulis lagi.
Menulis adalah proses kreatif. Ia tidak bisa berhenti di satu titik dan kemudian dianggap selesai. Setiap orang yang ingin menulis dengan baik harus terus belajar, harus terus membaca, harus terus mengembangkan kemampuan, harus terus mengasah kreativitas, harus terus mempertajam kepekaan—bersamaan dengan proses menulisnya.
Sekali lagi, menulis adalah proses kreatif—dan ini adalah proses yang tak pernah selesai. Artinya, siapa saja yang ingin dapat menulis dengan baik haruslah terus berproses. Setiap kali kau merasa tulisanmu sudah baik, yakinilah bahwa itu bukan titik final—karena selalu ada cara baru untuk terus memperbaiki tulisan itu—yakni dengan proses belajar tanpa henti.
Jadi, bagaimana cara menulis yang baik? Sekarang mari kita simpulkan. Cara menulis yang baik adalah dengan banyak belajar, banyak membaca, banyak menulis, banyak belajar lagi, banyak membaca lagi, banyak menulis lagi…dan begitu seterusnya. Cukup mudah, kan…?
Oleh : Hoeda Manis
Jumat, 04 Oktober 2013
Pengaruh Digital Megazine Terhadap Bisnis Penerbitan
Perkembangan teknologi informasi semakin hari semakin berinovasi dan sangat mengagumkan. Kita masih ingat bahwa sebuah lagu atau film yang disimpan dalam pita analog sebesar piring atau papan hanya untuk pemutaran film berdurasi 2 jam, kita juga masih ingat bagaimana tumpukan kertas ujian dan catatan yang menumpuk yang masih manual atau ratusan bundel photo yang bingung menyimpan karena berjumlah ribuan bahkan ratusan. Kini semua itu mungkin menjadi sebuah hal unik kalau masih tetap dilakukan karena banyak teknologi yang mampu merubah semuanya menjadi lebih mudah dan efisien. Kita ambil contoh adalah Digital Megazine.
Sekilas Digital Megazine dan Bisnis Penerbitan
Digital Megazine merupakan sebuah produk teknologi informasi yang mampu menampikan model bacaan baru dalam formal digital.
Kehadiran Digital Megazine tentu sangat berpengaruh kepada model membaca masyarakat. Sebelumnya, hampir tak terbayangkan kita dapat membaca majalah berformat digital, yang bukan hanya dalam bentuk Web atau file PDF, Word, Photoshop atau sejenisnya melainkan dalam berbagai formal sesuai dengan keinginan. Kita dapat membaca majalah berformat digital dengan konten yang sama, desain grafis yang sama, tampilan yang sama dan membalik-balik halamannya, termasuk halaman iklan, sama seperti membaca majalah berformat cetak, tetapi dapat disimpan dan dibaca di komputer desktop, laptop atau PC tablet. Selain memberi pengalaman membaca yang baru, lebih fleksibel, interaktif dan menyenangkan, juga memungkinkan Anda membawa puluhan majalah tanpa harus menenteng tumpukan kertas yang sangat tebal sebagaimana saat ini.
Biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli majalah digital inipun, saat ini, karena bersifat digital yang dapat download melalui Internet langsung ke desktop atau laptop atau PC tablet Anda ( platform -nya MacOS X, Windows dan PC tablet) relatif jauh lebih murah dibandingkan edisi cetaknya.
Ambil contoh data yang didapatkan pada tahun 2005, majalah Business Week , yang terbit setiap minggu hanya mengenakan biaya pembelian sebesar USD45,97 per tahun (hemat 82% dibandingkan kalau membeli edisi cetaknya), Popular Science , yang terbit bulanan, hanya USD15,95 per tahun atau hemat 67%, Harvard Business Review hanya dihargai USD118,00 setahun atau hemat 42% dan masih banyak majalah lainnya.
Dibalik itu semua yang merupakan dampak positif yang tidak diperlu diperhitungkan lagi, ada dampak negatif yang dapat memukul habis bisnis penerbitan khususnya di Indonesia tentunya dengan beberapa kriteria sehingga Digital Megazine benar-benar bisa menggoyahkan bisnis penerbitan yang masih bersifat manual dan hardcopy.
Lebih dalam mengenal dampak Digital Megazine bagi Bisnis Publishing
Banyak berbagai alasan masyarakat untuk lebih mudah menggunakan majalah berformat digital daripada harus menggunakan edisi cetaknya, walaupun sebagian masyarakat yang lebih nyaman membaca edisi cetaknya langsung. Secara perlahan fenomena ini akan sangat membahayakan bagi bisnis publishing yang tidak mau berinovasi dan melebarkan sayapnya merambah bisnis digital publishing atau sebaliknya bahkan menjadi ceruk bisnis baru yang dapat menghasilkan profit dari sisi lain.
Kebanyakan di Indonesia, bisnis publishing memposisikan digital megazine sebagai nilai tambah saja dan sepertinya tidak sadar kalau dengan implementasi digital megazine dapat mengurangi pendapatan dari edisi cetak. Kita lihat contoh, Pikiran Rakyat menerbitkan Pikiran Rakyat CyberMedia, ada sebagian orang yang lebih nyaman baca diinternet daripada harus pergi ke loper koran untuk mendapatkan edisi cetaknya, begitu pula dengan Galamedia, karena konten yang ada di edisi cetak dengan yang dionline hampir sama dan bisa sama, maka banyak pembaca yang lebih nyaman baca di internet, selain mudah, edisi-edisi sebelumnyapun masih bisa kita buka. Kalau misalkan pembangunan Pikiran Rakyat Online tidak menjadi ceruk bisnis baru bagi PR maka bayangkan apabila dikemudian hari seluruh masyarakat sudah terhubung dengan jaringan internet broadband. Lain kasusnya dengan majalah komputer Chip, selain edisi cetaknya, majalah chip juga menyediakan edisi digitalnya, ketika satu file majalah disebarkan ke ribuan orang maka secara otomatis pembaca tadi akan berfikir dua kali untuk melihat edisi cetaknya.
Seperti diungkapkan sebelumnya, masalah yang berkembang saat ini adalah dimana Perusahaan bisnis penerbitan tidak menggunakan produk teknologi informasi ini menjadi sesuatu ceruk bisnis baru yang justru dikemudian hari bisa membunuh bisnis fokus perusahaan itu. Jadi dapatlah diberikan beberapa point dampak adanya digital megazine yang merugikan bagi bisnis penerbitan :
- Bisnis Publishing yang tidak memproduksi dalam format digital dianggap bisnis yang tidak "ngeh" dengan teknologi.
- Perusahaan penerbitan akan menjadi merugi apabila memproduksi digital megazine tetapi hanya untuk tambahan saja bukan menjadi ceruk bisnis baru.
- Masyarakat secara lambat laun akan mulai merubah kebiasaan membaca dari format cetak menjadi format digital sejalan dengan pembangunan infrastruktur Teknologi Informasi di Indonesia dan semakin murahnya berbagaimacam produk hardware. Ketika sebuah bisnis publishing atau penerbitan tidak mempersiapkan diri untuk hal ini maka akan tertinggal oleh yang lainnya.
Intinya, adanya digital Megazine akan menjadi sebuah virus pembunuh bisnis publishing apabila si perusaaan itu tidak mau menginplementasikan dengan konsep yang matang, karena kurangnya konsep dalam implementasikan justru akan berdampak pada berkurangnya oplah cetak.
Bagaimana supaya Pengaruh Negatif keberadaan Digital Megazine tidak dominan bagi bisnis penerbitan ?
Sebuah pertanyaan yang menarik, semua masyarakat bisnis penerbitan tentu ingin berprofit tinggi dan menguntungkan. Ada beberapa terapi dan rekomendasi yang bisa dilakukan.
- Buat Konsep Implementasi TI yang matang.
Ketika sebuah perusahaan apapun akan mengimplementasikan teknologi informasi tentunya harus dibuat konsep yang matang, termasuk pembangunan infrastrukur dalam produksi digital Megazine
- Mulai membuat Digital Megazine
Ada satu hal yang menarik, pembuatan megazine saat ini jarang diikuti dengan konsep yang matang yang justru berakibat pada berkurangnya oplah cetak. Oleh karena itu konsep pembangunan edisi digitalnyapun memerlukan konsep yang handal sebagai contoh :
- Penggunaan DRM (Digital Right Management) dalam distribusi Digital magazine.
- Pembuatan Digital Megazine yang berbeda dengan edisi cetak, ada konten yang boleh sama, namun ada sesuatu yang berbeda dari keduanya dan sama-sama dominan, ambil contoh ada konten-konten cetak yang tidak ada dalam digital atau sebaliknya.
- Mulai menerapkan model pembayaran untuk Digital Edisi, walapun itu hanya setengah harga dari oplah cetak, setidaknya jadi peluang bisnis baru bagi daerah yang tidak terjangkau distribusi.
Digital dan Cetak harus saling Mengisi
Maksudnya adalah ketika kita membangun digital version maka setidaknya harus ada share informasi dari keduanya, ambil contoh pikiran rakyat, di edisi cetaknya bisa mencantumkan iklan tentang Media Online dan Digitalnya dan sebaliknya.
Semua ini menunjukan bahwa kehadiran Digital Megazine sangat berpengaruh bagi bisnis penerbitan di Indonesia, dampaknya tergantung dari bisnisnya itu sendiri.
_Adi Sumaryadi_
Jika membutuhkan jasa print on demand silakan hubungi RAFIKATAMA 08561988872 atau kunjungi website resmi Print On Demand www.printondemand.co.id tempat cetak buku terbaik
Jika membutuhkan jasa print on demand silakan hubungi RAFIKATAMA 08561988872 atau kunjungi website resmi Print On Demand www.printondemand.co.id tempat cetak buku terbaik
Kamis, 03 Oktober 2013
Rokok Mentol Lebih Berbahaya
Lembaga Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mengungkapkan bahwa rokok mentol lebih berbahaya dibandingkan rokok jenis lain. Saat ini lembaga tersebut sedang berkonsultasi untuk membatasi penjualan produk tersebut.
FDA mengatakan bahwa rokok dengan rasa mint sama beracunnya dengan rokok lain. Perokok pemula yang berasumsi rokok mint memiliki kadar nikotin rendah ternyata akan menemui kesulitan untuk berhenti. Diungkapkan situsBBC edisi 24 Juli 2013, rokok mentol merupakan salah satu industri tembakau yang sedang berkembang saat ini.
Saat ini FDA sedang melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Mereka sedang meminta masukan dari komunitas kesehatan, industri tembakau, dan anggota masyarakat mengenai produk ini. "Rokok mentol mempunyai risiko kesehatan bagi masyarakat, sama seperti rokok non-mentol," demikian hasil penelitian awal FDA.
Temuan lainnya dari hasil penelitian itu adalah kualitas cita rasa dingin dan anestetiknya membuat rokok ini terasa kurang tajam dan lebih menggoda untuk para perokok.
Kesimpulan laporan tersebut mengikuti hasil temuan sebelumnya yang diungkapkan pada 2011 silam, yang menyatakan bahwa pelarangan rokok mentol akan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Namun industri tembakau menyatakan bahwa rokok mentol tidak perlu mendapatkan perlakuan berbeda dari aturan rokok jenis lainnya.
Kelompok mantan pejabat kesehatan, termasuk dua sekretaris kabinet dari era Presiden Carter dan Presiden Bush, mengecam kelambanan FDA. "Kegagalan pemerintah dalam bertindak akan merusak kesehatan masyarakat, dan khususnya berbahaya dan rentan bagi anak-anak muda Amerika dan keturunan Afrika-Amerika," demikian pernyataan bersama mereka.Menurut penelitian sebelumnya dari US Department of Health, hanya sekitar 25 persen perokok putih memilih rokok mentol, sementara lebih dari 70 persen keturunan Afrika-Amerika merokok jenis ini.
Jika membutuhkan jasa print on demand silakan hubungi RAFIKATAMA 08561988872 atau kunjungi website resmi Print On Demand www.printondemand.co.id tempat cetak buku terbaik
FDA mengatakan bahwa rokok dengan rasa mint sama beracunnya dengan rokok lain. Perokok pemula yang berasumsi rokok mint memiliki kadar nikotin rendah ternyata akan menemui kesulitan untuk berhenti. Diungkapkan situsBBC edisi 24 Juli 2013, rokok mentol merupakan salah satu industri tembakau yang sedang berkembang saat ini.
Saat ini FDA sedang melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Mereka sedang meminta masukan dari komunitas kesehatan, industri tembakau, dan anggota masyarakat mengenai produk ini. "Rokok mentol mempunyai risiko kesehatan bagi masyarakat, sama seperti rokok non-mentol," demikian hasil penelitian awal FDA.
Temuan lainnya dari hasil penelitian itu adalah kualitas cita rasa dingin dan anestetiknya membuat rokok ini terasa kurang tajam dan lebih menggoda untuk para perokok.
Kesimpulan laporan tersebut mengikuti hasil temuan sebelumnya yang diungkapkan pada 2011 silam, yang menyatakan bahwa pelarangan rokok mentol akan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Namun industri tembakau menyatakan bahwa rokok mentol tidak perlu mendapatkan perlakuan berbeda dari aturan rokok jenis lainnya.
Kelompok mantan pejabat kesehatan, termasuk dua sekretaris kabinet dari era Presiden Carter dan Presiden Bush, mengecam kelambanan FDA. "Kegagalan pemerintah dalam bertindak akan merusak kesehatan masyarakat, dan khususnya berbahaya dan rentan bagi anak-anak muda Amerika dan keturunan Afrika-Amerika," demikian pernyataan bersama mereka.Menurut penelitian sebelumnya dari US Department of Health, hanya sekitar 25 persen perokok putih memilih rokok mentol, sementara lebih dari 70 persen keturunan Afrika-Amerika merokok jenis ini.
Jika membutuhkan jasa print on demand silakan hubungi RAFIKATAMA 08561988872 atau kunjungi website resmi Print On Demand www.printondemand.co.id tempat cetak buku terbaik
Rabu, 02 Oktober 2013
Orang-orang yang sukses tanpa ijazah di Indonesia
1. Andi F. Noya
PimRed Metro TV ini belum lulus sarjana… Satu hal yang menarik, Andy sebenarnya adalah orang teknik.
Sejak lulus SD Sang Timur di Malang, Jawa Timur, pria kelahiran Surabaya ini sekolah di Sekolah Teknik Jayapura lalu melanjutkan ke STM Jayapura. “Tetapi sejak kecil saya merasa jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Kemampuan menggambar kartun dan karikatur semakin membuat saya memilih dunia tulis menulis sebagai jalan hidup saya,” tutur Andy
2. Adam Malik
Adam Malik Batubara (lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 22 Juli 1917 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 5 September 1984 pada umur 67 tahun) adalah mantan Menteri Indonesia pada beberapa Departemen, antara lain beliau pernah menjabat menjadi Menteri Luar Negeri. Ia juga pernah menjadi Wakil Presiden Indonesia yang ketiga.
Ternyata orang yg dikabarkan Agen CIA ini ternyata gak pernah ngenyam bangku sekolah.
3. M.H.Ainun Najib
Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah, Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Selebihnya Beliau jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi).
4. Abdullah Gymnastiar
Kiayi yang kmarin2 ini santer dengan kasus poligaminya,ternyata sukses menjadi kiayi dan wirausahawan (pengusah besar) tanpa ijazah. walaupun sudah lulus, tapi dikabarkan sampai saat ini blm mengambil ijazahnya.
5. Ajip Rosidi
dengan tak mau mengikuti ujian akhir SMA nya. Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah. “Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah”. Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.
Berikut Sejarah Pendidikan Beliau :
* Sekolah Rakyat 6 tahun di Jatiwangi (1950)
* Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953)
* Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956, tidak tamat)
6. Bob Sadino
Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia dan tidak melanjutkan kuliah. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
Jika membutuhkan jasa print on demand silakan hubungi RAFIKATAMA 08561988872 atau kunjungi website resmi Print On Demand www.printondemand.co.id tempat cetak buku terbaik
Jika membutuhkan jasa print on demand silakan hubungi RAFIKATAMA 08561988872 atau kunjungi website resmi Print On Demand www.printondemand.co.id tempat cetak buku terbaik
Langganan:
Komentar (Atom)